Jul 30, 2017

Mengenal Asgardia, Negera Pertama di Luar Angkasa. Bagian 2

Silakan baca artikel sebelumnya mengenai Asgardia : Mengenal Asgardia, Negera Pertama di Luar Angkasa. Bagian 1

Salah satu keunikan Asgardia adalah sistem penanggalan yang berbeda. Asgardia menggunakan modifikasi dari kalender Gregorian yang umum kita ketahui, namun memulai semuanya kembali dari awal. Seperti di hari ini, tanggal 29 Juli 2017, di Asgardia sekarang tanggal 14 Juli 0001.

Nama Asgardia sendiri diambil dari Mitologi Nordik di Eropa Utara yang merupakan kota di langit yang dikuasai oleh Odin dari Valhalla.

Belum jelas kapan negara pertama di luar angkasa ini akan beroperasi. Namun, rentetan satelit dilaporkan akan dilesatkan ke luar angkasa dengan simbol Asgardia-1 pada 12 September 2017 nanti.

Menurut ide dari penggagas Asgardia, negara itu diharapkan berada di ketinggian sekitar 161-321 kilometer dari permukaan Bumi atau hampir setara dengan ketinggian Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Tim pencetus negara Asgardia juga memiliki akun halaman Facebook yang bisa menjadi ajang tanya jawab. Salah satunya, akun halaman Facebook "Asgardia Indonesia". Sejumlah warga Indonesia yang penasaran bertanya tentang nasib kewarganegaraan mereka jika Asgardia resmi beroperasi dan mereka diterima sebagai warga negara.

Pengguna akun Patricia Devina, misalnya, mengajukan pertanyaan; “Saya ingin mendaftar tapi maaf apa tidak apa-apa warga Indonesia mendaftar di sana? Karena negara kita tidak memperbolehkan dwi kewarganegaraan.

Admin Asgardia Indonesia pun menjawab; “Halo! Untuk sekarang tidak masalah karena Asgardia belum dianggap sebagai suatu negara. Ketika Asgardia sudah dianggap menjadi negara maka tergantung kebijakan Indonesia terhadap Asgardia saat itu.”

Jawaban itu sinkron dengan pernyataan konsep Asgardia yang ditulis Igor Ashurbeyli di situs Asgardia. “Pertanyaan tentang kewarganegaraan Asgardia juga penting. Setelah Asgardia diakui sebagai anggota PBB, pertanyaan tentang alasan pemberian kewarganegaraan pasti akan muncul. Salah satu pendapatnya adalah bahwa Asgardian (sebutan untuk warga Asgardia) pertama adalah mereka yang bekerja di bidang penelitian dan eksplorasi ruang angkasa, dan teknologi ruang angkasa, serta investor di bidang ini, termasuk investor kecil,” tulis Ashurbeyli.


Pendapat Ahli di Lapan

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Lapan, Thomas Djamaluddin, bahwa orang Indonesia bisa dibilang percuma mendaftar negara melayang yang digagas Igor Ashirbeyli itu.

"Asgardia mensyaratkan warganya berasal dari negara yang membolehkan dwi-kewarganegaraan. WNI (Warga Negara Indonesia) tidak boleh dwi-kewarganegaraan. Mestinya ditolak oleh Asgardia," ujar Thomas.

Menurutnya, Asgardia terkendala dua hal yakni aspek teknologi dan hukum. Dari sisi teknologi, Asgardia masih jauh untuk mewujudkan koloni manusia di luar angkasa.

"Asgardia masih mimpi. Kendala terbesar adalah mewujudkan koloni di antariksa," ujar Thomas.

Jebolan doktor Astronomi Kyoto University Jepang itu mengatakan, teknologi daya dukung kehidupan di antariksa untuk jumlah manusia yang banyak, sejauh ini belum ada. Selain itu, koloni manusia di luar angkasa butuh persiapan matang dan panjang.

"Warga yang akan tinggal di sana juga pasti dikenai biaya amat sangat mahal," tuturnya.

Kemudian dari sisi legalitas, ujar Thomas, sejauh ini tak ada pengaturan untuk pendirian entitas negara di luar Bumi. Hukum keantariksaan internasional sepanjang ini hanya mengatur tentang negara peluncur objek antariksa.

"Legalitas koloni masih diperdebatkan," katanya.

Problem lain dalam pendirian Asgardia adalah soal status warga negara. Sebagaimana diketahui, Asgardia menyaratkan warganya berasal dari negara yang membolehkan dwi kewarganegaraan. Sementara untuk konteks Indonesia, melarang warganya punya dwi kewarganegaraan.

Untuk itu, dia menilai, seharusnya Asgardia menolak ribuan warga Indonesia yang menjadi warga Asgardia.  "Mestinya ditolak oleh Asgardia (warga Indonesia yang daftar)," tegasnya.

Sebelumnya, Asgardia telah menarik perhatian orang Indonesia. Tercatat sudah ada 5.182 warga Indonesia yang lolos menjadi anggota atau warga negara Asgardia atau Asgardian.

Jumlah Asgradian asal Indonesia itu merupakan bagian dari total Asgardian seluruh dunia yang telah mencapai 273.490. Menurut situs Asgardia, Asgardian dari Indonesia didominasi oleh kaum adam dengan 84 persen. Sedangkan sisanya, 16 persen, adalah kaum hawa.

Lima ribuan Asgardian dari Indonesia ini berasal dari berbagai wilayah di Tanah Air. Secara rinci berikut daftar Asgardian dari Indonesia, per Juli 2017:

1.Mataram (26 Asgardian)
2. Denpasar (64 Asgardian)
3. Bali (15 Asgardian)
4. Jember (16 Asgardian)
5. Blitar (14 Asgardian)
6. Kediri (18 Asgardian)
7. Malang (119 Asgardian)
8. Sidoarjo (75 Asgardian)
9. Surabaya (224 Asgardian)
10.Surakarta (33 Asgardian)
11.Yogyakarta (115 Asgardian)
12.Sleman (21 Asgardian)
13.Semarang (109 Asgardian)
14.Pekalongan (14 Asgardian)
15.Purwokerto (15 Asgardian)
16.Cilacap (18 Asgardian)
17.Cirebon (32 Asgardian)
18.Tasikmalaya (20 Asgardian)
19.Garut (16 Asgardian)
20.Bandung (299 Asgardian)
21.Sukabumi (14 Asgardian)
22.Karawang (17 Asgardian)
23.Bogor (159 Asgardian)
24.Bekasi (199 Asgardian)
25.Jakarta (734 Asgardian)
26.Jakarta Selatan (74 Asgardian)
27.Tangerang Selatan (84 Asgardian)
28.Tangerang (198 Asgardian)
29.Bandar Lampung (49 Asgardian)
30.Bengkulu (19 Asgardian)
31.Palembang (71 Asgardian)
32.Jambi (38 Asgardian)
33.Padang (44 Asgardian)
34.Pekanbaru (65 Asgardian)
35.Medan (180 Asgardian)
36.Banda Aceh (26 Asgardian)
37.Manado (33 Asgardian)
38.Kendari (17 Asgardian)
39.Makassar (90 Asgardian)
40.Palu (19 Asgardian)
41.Samarinda (43 Asgardian)
42.Balikpapan (58 Asgardian)
43.Banjarmasin (40 Asgardian)
44.Palangkaraya (26 Asgardian)
45.Pontianak (76 Asgardian).

Bagaimana? Anda tertarik untuk menjadi warga negara Asgardia, silakan kunjungi situsnya : Asgardia.
Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment