Beberapa waktu yang lalu terjadi kasus penembakan di Amerika, seorang pria muda yang bernama James Eagan Homes yang berusia 24 tahun melakukan aksi penembakan membabi buta pada saat premiere film Batman The Dark Night Rises di Colorado. Aksi brutalnya ini mengakibatkan setidaknya 12 orang tewas dan 71 luka-luka (
sumber). Lebih lanjut diungkap ternyata pria muda tersebut sedang mengalami stress berat karena beberapa kali ditolak wanita sehingga melampiaskannya dengan melakukan aksi penembakan secara brutal.
Di Indonesia juga terjadi aksi yang tidak kalah brutalnya, yaitu pembunuhan terhadap 2 orang warga Bojong Gede, yang lebih mengerikannya lagi pelakunya adalah seorang anak lelaki berusia 14 tahun. Diungkap pula, anak laki-laki tersebut menjadi nakal setelah putus sekolah, sehingga membunuh karena memiliki hutang sebanyak 1 juta rupiah kepada korban. (
sumber).
Aksi tawuran pelajar pada tahun 2012 ini juga meningkat (
sumber). Faktanya, aksi tawuran yang kadang disertai senjata tajam ini seringkali dilakukan oleh remaja pria. Begitu pula dengan banyaknya kasus beredarnya video asusila yang justru pelakunya adalah pasangan pelajar - pria-wanita- yang tentunya belum waktunya bagi mereka untuk berbuat demikian, karena mereka bukan pasangan suami isteri. Ini benar-benar menyedihkan
Mencermati kasus-kasus di atas, terbersit dalam pikiran saya,
mengapa hal itu sampai terjadi? Bagaimana cara orang tua mereka dalam mendidik hingga mereka berbuat kejahatan? Apakah hal itu karena pengaruh lingkungan atau memang karena salah didik?Menurut saya, perkembangan karakter seorang anak, sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara orang tua mendidik. Peran orang tua dalam mendidik anak dalam PORSI BESAR sangat dibutuhkan. Lalu di antara Ayah dan Ibu, siapakah yang seharusnya lebih diutamakan mendidik anak?
Sesuai dengan Al-Qur'an surat An Nisaa' (4): 34, yang menyebutkan bahwa pria adalah pelindung (pemimpin) wanita, maka di dalam sebuah keluarga, seharusnya peran seorang Ayah dalam mendidik anak adalah hal yang utama, selain Ibu tentunya. Namun seringkali kita menemukan kondisi dimana dalam sebuah keluarga, seorang pria (suami) menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah, sedangkan isterinya hanyalah ibu rumah tangga, kemudian segala persoalan yang berkaitan dengan anak, terutama mendidik anak, seolah-olah menjadi kewajiban bagi sang isteri, karena suami
merasa sudah terlalu capek disibukkan dengan urusan mencari nafkah sehingga tidak sempat mengurusi anak.
Maka mengingat fitrah pria adalah sebagai seorang pemimpin (termasuk dalam keluarga), pantaskah hal itu dijadikan suatu alasan?
Rasanya sebagai seorang suami, sudah sepantasnya senantiasa kita luangkan waktu kita untuk mendidik keluarga kita. Saya rasa pertanyaan:
bagaimana kegiatan di sekolahmu hari ini? atau
hari ini ada pekerjaan rumah? yang kita tanyakan kepada anak-anak kita (bila diucapkan dengan penuh wibawa) akan membuat anak merasa bahwa mereka diperhatikan. Apalagi jika kita bantu mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumah, ini akan memotivasi anak untuk lebih giat belajar.
Tapi apakah hal itu bisa kita lakukan?
Di lain pihak, seorang wanita (isteri) memang diciptakan berbeda dengan pria. Wanita bersikap lebih lembut dan kadang kurang tegas. Bisa kita bayangkan di suatu keadaaan dimana seorang anak akan menempuh ujian di sekolah, tetapi sang anak tersebut malah asyik bermain game sehingga lalai dalam belajar. Dalam keadaan tersebut, misalnya ayah dan ibunya masing-masing menegur dengan kalimat,
hentikan bermain game! cepat belajar!, kira-kira teguran manakah yang akan lebih diperhatikan oleh anak, suara ibu yang "halus" itu, atau kata-kata ayah yang tegas?
Seorang suami atau ayah yang senantiasa mendidik anak dan isteri dengan benar, saya yakin anggota keluarganya tidak akan rusak. Namun bila suami atau ayah lebih banyak menunjukkan perilaku atau sifat yang negatif, seperti halnya saya pribadi yang kadang egois, mudah emosi, saya kira sebagai seorang suami saya harus memperbaiki sifat-sifat buruk tersebut. Mengapa? Karena kita adalah teladan bagi anak-anak kita. Seperti halnya kasus kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak muda sejak jaman dulu hingga kini, sedikit banyak tentu dipengaruhi oleh bagaimana orang tua berperilaku di rumah. Bisa saja seorang suami yang suka berkata kasar saat berada di rumah kemudian ditiru oleh anak-anak mereka, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang wajar. Imbasnya tidak hanya kata-kata kasar yang ditiru, ibarat "guru kencing berdiri murid kencing berlari" anak-anak yang melihatnya dan sedang mengalami masalah kemudian akan berbuat kasar pula terhadap temannya atau orang lain, bahkan berbuat lebih sadis, misalnya membunuh.
Begitu pula seorang isteri, pada umumnya para isteri akan patuh terhadap apa yang dikatakan oleh suaminya, karena menganggap bahwa seorang suami adalah pemimpin rumah tangga. Tetapi bagaimana seorang suami akan mendidik isteri bila pengetahuan agamanya kurang? Apa yang menjadi dasar didikannya? Bagaimana akan menegaskan suatu perintah atau larangan tanpa mengetahui landasannya? Bagaimana akan mendorong anak dan isteri berbuat baik bila dirinya sendiri tidak menjalankannya?
Sungguh, perilaku anak-anak sangat tergantung pada bagaimana mereka dididik di rumah. Ini sudah jelas. Anak-anak yang dididik dengan tegas oleh ayahnya dengan keteladanan akan cenderung berhati-hati dalam berbuat, karena terdorong rasa
takut kepada sang ayah.
Lalu, bisakah kita simpulkan bahwa kasus-kasus kejahatan (terutama yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja) yang semakin sering terjadi saat ini adalah karena
kita kehilangan figur pemimpin?
Bila seorang pria mampu menempatkan posisinya sebagai seorang suami atau ayah dengan benar, yaitu memimpin keluarganya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, keteladanan dan
KETEGASAN, niscaya rumah tangganya akan berjalan dengan baik dan lancar, selamat dunia dan akhirat. Wassalam.