Mar 18, 2012

Fenomena Batu Hajar Aswad

Fenomena Batu Hajar Aswad.
Hasil penelitian tentang Kota Mekah yang dilakukan oleh Neil Amstrong ketika perjalanan ke luar angkasa disimpulkan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet bumi.

Hajar Aswad merupakan sebuah batu hitam jenis rubi yang terletak di sudut tenggara Ka’bah. Batu tersebut terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dalam lingkaran perak. Karena terus menerus dicium dan diusap-usap oleh jutaan, bahkan miliaran manusia untuk keperluan ibadah, batu hitam ini menjadi sangat licin.

Neil Amstrong merupakan orang pertama kali yang meneliti tentang Kota Mekah, yakni ketika melakukan perjalanan ke luar angkasa. Kemudian, ia menyimpulkan bahwa Kota Mekah adalah pusat dari planet bumi. Bahkan, para peneliti muslim percaya jika Ka’bah yang ada di bumi berhubungan dengan Ka’bah di alam akhirat.

Di tengah-tengah Kutub Utara dan Kutub Selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’ (Area Non Magnet). Maksudtnya, jika seorang mengeluarkan kompas di area tersebut, jarum kompasnya tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub. Oleh sebab itu,seseorang yang tinggal di Mekah, dipercaya akan hidup lebih lama, lebih shat, dan tidak dipengaruhi oleh banyaknya kekuatan gravitasi.

Di samping itu, ketika mengelilingi Ka’bah, seakan-akan tubuh seperti diisi oleh suatu energy misterius. Ada juga yang mengungkap bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan dapat mengambang di air.

Riwayat Batu Hajar Aswad
Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka’bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.
Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ketempat semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
”Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”

Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?

Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.

Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka’bah.

Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”

Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) “.

Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi). Dari berbagai sumber.
Artikel Terkait

15 comments:

  1. Subhannallah !!! Like This !!!

    ReplyDelete
  2. Subhannallah :) kungjungi juga yah om :) http://jowjhe.blogspot.com/

    ReplyDelete